bisnis

Liwa Gunung Prisma Menerapkan Ekonomi Sirkular di Industri Baja

liwa gunung prisma industri baja

Saat ini, kegiatan ekonomi yang sedang berlangsung tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya saja. Namun, kegiatan ekonomi harus mulai memperhatikan tentang keberlanjutan ekonomi yang lebih hijau. Hal ini dilakukan untuk melestarikan lingkungan sekitar yang dikenal dengan ekonomi sirkular. 

Salah satu sektor yang berpotensi untuk mendukung ekonomi sirkular adalah industri baja. Setiap tahunnya, permintaan akan baja semakin meningkat seiring dengan banyaknya kebutuhan di regional dan internasional. Dengan bahan baku yang bisa di daur ulang, sudah seharusnya industri baja memberikan dukungan kepada ekonomi sirkular. 

Perusahaan di industri baja yang telah menerapkan ekonomi sirkular yaitu Gunung Prisma. Menurut Liwa Supriyanti selaku pimpinan di perusahaan tersebut, mengatakan bahwa perusahaannya akan mulai berkomitmen untuk mengelola perusahaannya dengan komitmen yang hijau. Dengan komitmen yang dilakukan oleh Gunung Prisma, Liwa berharap perusahaan lain dapat mulai mempersiapkan strategi dan kebijakan untuk menerapkan ekonomi sirkular. 

Liwa Gunung Prisma Dalam Penerapan Ekonomi Sirkular

Sesuatu yang akan memberikan dampak yang besar bagi sosial dan lingkungan tentu membutuhkan banyak usaha yang maksimal pula. Sebagai langkah awal dalam penerapan ekonomi sirkular, Liwa Supriyanti memulainya dengan melibatkan perusahaan Gunung Prisma untuk berkomitmen hijau. Setelah itu, perusahaan akan lebih sadar akan tanggung jawabnya dengan lingkungan. 

Penerapan ekonomi sirkular ini, telah menjadi bagian dari Visi Indonesia Tahun 2045 tentang pembangunan yang rendah karbon serta upaya untuk mengatasi permasalahan sosial, lingkungan dan ekonomi yang isinya sejalan dengan Paris Agreement Tahun 2030. 

Tantangan yang dihadapi oleh berbagai sektor industri ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, namun seluruh negara di dunia juga bersama-sama menggalakan berbagai strategi untuk mengurangi dampak lingkungan akibat aktivitas manusia. 

Pada awal tahun 2021 lalu, Kementerian Perindustrian telah memberikan informasi bahwa kapasitas untuk mendaur ulang besi baja dalam negeri sebanyak 9 juta setiap tahunnya. Proses daur ulang ini terdiri dari gabungan 60 perusahaan dengan target utilisasi produk berada pada angka 40% dan kebutuhan bahan baku daur ulangnya sebesar 4 juta setiap tahunnya. 

Efisiensi Ekonomi Sirkular

Studi tentang ekonomi sirkular ini disusun bersama-sama dengan 5 sektor konstruksi yang berbeda, UNDP, Kedubes Denmark dan Bappenas yang hasilnya terbit pada bulan Januari 2021. 

Penerapan ekonomi sirkular ini masih perlu dilakukan efisiensi karena limbah yang dihasilkan masih besar. Salah satu bentuk efisiensi yang dapat dilakukan yaitu dengan mendesain ulang produk yang akan mengurangi penggunaan sumber daya. Dengan efisiensi yang maksimal di semua sektor industri, maka akan didapat penghematan jangka panjang mencapai 33%, emisi yang digunakan akan rendah. Ketika hal tersebut dapat dicapai, maka kita akan dapat berkontribusi pada perubahan dampak lingkungan yang lebih baik lagi. 

Memanfaatkan kembali barang-barang yang sudah di daur ulang telah memberikan dampak langsung dan tidak langsung kepada lingkungan dan masyarakat. Manfaat secara langsung yang dirasakan adalah biaya pembeliaan bahan daur ulang yang lebih murah. Tulangan baja bekas di Indonesia bisa 30% lebih murah jika dibandingkan dengan tulangan baja yang baru. 

Banyaknya keuntungan yang didapat dengan menerapkan ekonomi sirkular ini telah dibuktikan oleh Gunung Prisma dan Liwa Supriyanti selaku pihak yang berjuang untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau yang berkelanjutan, mendorong pembangunan sosial dan melindungi lingkungan sekitar.

Bagikan postingan ini :)

(1) Komentar

  1. Baru paham sama sistem ekonomi ini, keren-keren industri baja juga terdengar asing mungkin karena kudet soal bisnis hehe. Terima kasih infonya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *