Lingkungan

Ketika Laut dan Hutan Bukan Lagi Kepunyaan Kita

Laut punya kenangan indah dan manis tentang masa kecil saya. Deburan ombak dan rona jingga matahari terbenam seringkali mengingatkan akan kapal almarhum Bak Uo yang menepi. Ya, Bak Uo (kakek) saya adalah seorang nelayan yang tangguh. Tubuhnya kekar mengkilat terkena jilatan matahari. Sorakannya menggelegar bersama nelayan lainnya menarik perahu. Saat itu kami berkumpul di pinggir pantai menanti Bak Uo, dengan mata berbinar tak sabar melihat hasil tangkapan dari balik sampan. Saat itu saya bersorak kegirangan, meloncat-loncat melihat ikan besar yang masih menggelepar. Tak kuasa menahan selera mencicipi cumi-cumi bakar dengan sepiring nasi hangat.

Saya masih ingat rasa manis ikan tangkapan Bak Uo. Ikan segar yang dicuci lalu dipanggang dengan bumbu jeruk nipis dan garam. Lalu mendengar cerita tentang laut dan keindahannya. Tentang lumba-lumba yang seringkali melompat di tengah laut atau cerita mistis saat Bak Uo mulai berlayar. Saya makin suka bermain di pantai, menemani nenek dan ibu yang membuka lapau nasi di pinggir pantai. Kenangan yang manis sekali.

Laut Kita Tak Lagi Sama, Bukan Lagi Kepunyaan Kita

Saya berharap anak saya Ubay punya kenangan yang sama akan laut. Saya ingin Ubay melihat apa yang pernah saya ceritakan tentang lobster besar yang suka dibagikan andeh (tante) karena tangkapan yang berlimpah.  Namun laut Bengkulu penuh kenangan masa kecil tak lagi sama, tak ada lapau nasi nenek disana, berganti cafรฉ dan tempat makan kekinian. Saya senang makin banyak yang menyukai laut, tapi di sisi lain saya sedih. Tak banyak  terdengar gempita semangat awak kapal menepikan sampan. Andeh yang saya kenal sebagai juragan ikan kini hanya punya warung kopi kecil untuk menyambung hidup. Katanya โ€œlaut tak lagi sahabat kita, ikan segar nan besar bukan lagi kepunyaan kitaโ€ Saya tercenung, mengitari pandang pada deru ombak yang menghempas sampah, busuk dan mengenaskan.

pantai bengkulu yang mulai dipenuhi sampah

Laut tak pernah salah. Tangan-tangan kitalah yang salah. Air laut yang dulu suka ibu jadikan andalan untuk menyembuhkan sakit kulit kini malah membuat sakit kulit karena limbah yang mengendap.
Apakah saya bermimpi? Tentu tidak! Saya menyaksikan betul bagaimana entengnya banyak orang melempar sampah ke pantai, menceburkannya ke laut yang jadi rumah banyak makhluk hidup disana. Bayangkan jika rumahmu dilempari kotoran, minuman dan makananmu bercampur sampah, bukan hanya sehari! tapi bertahun-tahun. Bisakah kita bertahan hidup? Jika kita saja tidak bisa bertahan hidup dengan memakan limbah dan sampah setiap harinya, bagaimana mungkin ikan dan makhluk laut lainnya bisa bertahan.

Ketika Terumbu Karang Rusak dan Penyu Enggan Datang

Saya makin ngilu saat membaca postingan Kanopi Bengkulu tentang Terumbu Karang di Teluk Sepang Bengkulu yang dihancurkan untuk melubangi laut demi saluran limbah air bahang/panas PLTU batu bara, lalu ditemukan juga bangkai lumba-lumba dan penyu berdekatan lokasi proyek. Teluk Sepang dulu juga tempat main saya. Adik ayah tinggal disana dan juga menjadi nelayan. Saya sering menginap di sana dan bermain di pantai nya yang eksotis. Namun kini, pantainya tak lagi perawan. Saya kadang mendengar keluh nya tentang ancaman limbah di Pantai Teluk Sepang yang mengancam kelestarian biota laut bahkan pencarian masyarakat yang mayoritas nelayan.

terumbu karang yang hancur di pantai bengkulu
foto : dok. Kanopi Bengkulu

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae. Ekosistem terumbu karang harus terjaga untuk keseimbangan laut karena untuk pertumbuhan terumbu karang dalam kurun waktu 1 tahun hanya 1 sentimeter saja. Tentu jika terumbu karang rusak dibutuhkan waktu hingga berpuluh-puluh tahun untuk memulihkannya. Jika terumbu karang rusak maka akan berdampak pada hasil laut dan mengurangi tangkapan nelayan. Lebih parah dari itu, rusaknya terumbu karang akan berdampak pada daratan karena terumbu karang merupakan penghalang arus gelombang alami.

FYI, Perairan Pulau Baii yang ada di wilayah Teluk Sepang merupakan kawasan ekosistem terumbu karang jenis acropora branching, digitate, dan massive tumbuh. Beroperasinya PLTU menurut Koalisi Langit Biru menjadi ancaman serius bagi kehidupan laut dan terumbu karang, karena air limbah PLTU dapat merusak terumbu karang dan ekosistem perairan sekitar pembuangan limbah. Untuk menghasilkan listrik, PLTU harus membakar batu bara sebanyak 113,85 ton/jam atau 2.732,4 ton/hari dan akan menghasilkan abu sebanyak 39,85 ton/jam. Untuk merebus air guna menghasilkan uap pemutar turbin, PLTU akan membuang air limbah bersuhu 40 derajat celsius langsung ke laut lepas. Air panas dengan suhu 40 derajat dapat mengakibatkan kematian organisme laut serta menghambat metabolisme dan fotosintesis serta akan membuat terumbu karang yang berada di Teluk Sepang rusak.

Bukan hanya tentang terumbu karang, pesisir barat Bengkulu merupakan habitat empat jenis penyu yang dijadikan sebagai tempat bertelur yaitu penyu sisik, penyu lekang, penyu belimbing dan penyu hijau. Penyu suka tempat yang damai, sepi dan gelap untuk bertelur. Mereka datang bersama gelombang ombak ke pantai Teluk Sepang yang langsung menghadap Samudera India lalu menggali pasir dan bertelur hingga ratusan butir. Namun kini penyu sisik dan penyu lekang mulai jarang terlihat karena habitat pantai yang mulai berubah, dulu sepi dan gelap kini terang dan ramai yang bersumber dari pembangunan PLTU Teluk Sepang.

Kekhawatiran ini makin menjadi karena Selasa (09/7/2019) ditemukan juga bangkai lumba-lumba.

bangkai lumba-lumba di pantai bengkulu ditemukan
bangkai lumba-lumba yang ditemukan (foto : dokumen kanopi bengkulu)

Selama puluhan tahun pantai ini jadi sumber penghidupan masyarakat seperti mencari remis dan kerang-kerangan. Jika baru saja tahap pembangunan PLTU sudah memberikan efek seperti ini, maka akan seperti apa Pantai Teluk Sepang Bengkulu beberapa tahun ke depan?

Dampak Kesehatan dari Pembakaran Batu Bara

Saat ini Bengkulu bergejolak karena banyak warga dan aktivis lingkungan menuntut pembangunan PLTU Teluk Sepang dihentikan dan dicabut izinnya. Saya tidak akan membahas bagaimana proses gugatan yang dilayangkan namun kita perlu mengkaji lebih dalam akan efek yang ditimbulkan dari proses dan limbah PLTU. Jika iming-iming asupan listrik yang cukup harus dibayar dengan kerusakan alam rasanya tidaklah sebanding dengan masa depan lingkungan dan kesehatan yang suram.

Teman-teman mungkin sudah banyak membaca akan efek yang ditimbulkan dari pembakaran batu bara yang dilakukan PLTU untuk menghasilkan tenaga listrik. Pembakaran batu bara jelas akan mencemari udara dengan polutan yang mengandung SO2, NOx dan PM 2,5 ditambah lagi hujan asam, emisi logam berat seperti merkuri, arsenik, nikel, kromium dan timbal. Satu juta ton batu bara akan dibakar per tahun bila Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara beroperasi di Teluk Sepang. Yang kena imbas siapa? Tentu saja masyarakat Bengkulu terutama yang berada di sekitar proyek. Paparan polusi dapat memicu penyakit stroke, jantung insemik, kanker paru-paru, paru obstuktif kronik, dan lain karena penyakit pernafasan dan kardiovaskular.

Kita mungkin perlu berkaca dari kasus Panau, Sulawesi Tengah di mana puluhan orang sudah terjangkit kanker dan paru-paru yang diduga akibat terpapar polusi PLTU batu bara berkapasitas 2 x 15 Megawatt. Bahkan sembilan orang warga di wilayah itu telah kehilangan nyawa. Angka estimasi kematian dini akibat PLTU batubara yang saat ini sudah beroperasi, mencapai sekitar 6.500 jiwa per tahun di Indonesia.

Pembakaran batubara adalah salah satu kontributor terbesar polusi udara. Polusi udara menyebabkan peningkatan risiko kanker paru-paru, stroke, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan. Polusi udara adalah pembunuh senyap, menyebabkan 3 juta kematian dini di seluruh dunia. Seharusnya ada regulasi dan komitmen meninggalkan penggunaan batubara. Ini bukan hanya soal perubahan iklim atau penyelamatan lingkungan, tetapi juga melindungi kesehatan masyarakat itu sendiri

Hutan Hancur untuk Menggali Batu Bara

banjir besar yang melanda bengkulu

Teman-teman mungkin sempat melihat berita mengenai banjir dan longsor yang terjadi hampir di seluruh wilayah Provinsi Bengkulu April lalu. Sekitar 30 jiwa meregang dan ribuan warga terdampak banjir juga kehilangan tempat tinggal. Bahkan wilayah yang biasanya tidak pernah mengalami banjir, saat itu mendapatkan kiriman air yang begitu dahsyat  hingga atap rumah terendam. Menurut masyarakat, banjir beberapa waktu yang lalu di Bengkulu merupakan banjir terparah  selama 20 tahun terakhir. Saya bersama tim Blogger Bengkulu saat itu melakukan donasi dan menyerahkan langsung bantuan kepada masyarakat di Bengkulu Tengah dan kondisinya sangat menyedihkan. Ada balita yang tertimbun longsor saat sedang tidur di rumahnya. Sungai tak sanggup lagi menampung air kiriman dari gunung karena penyerapan air di gunung mulai berkurang karena hutan yang mulai gundul.

hutan lindung bukit daun yang gundul karena ditebangi

Masyarakat berang mengetahui keadaan di lapangan tentang Hutan yang biasanya menjadi penyangga kini mulai berkurang. Keberadaan delapan perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di kawasan penyangga Hutan Lindung Bukit Daun yang merupakan catchment area atau daerah tangkapan air hulu Sungai Bengkulu yang meluap akibat hujan deras dan mengakibatkan banjir merendam hampir seluruh wilayah Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu.

Direktur Kanopi Bengkulu, Ali Akbar mengungkapkan bahwa debit air yang tidak mampu ditampung oleh sungai-sungai yang ada seperti Sungai Bengkulu, Sungai Ketahun dan Sungai Musi seharusnya menjadi poin perhatian utama untuk mencari akar masalah dari bencana di akhir April lalu. Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Bengkulu di wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah telah habis dikapling untuk pertambangan batu bara dan perkebunan sawit. Tercatat ada delapan perusahaan tambang batu bara di hulu sungai ditambah satu perusahaan perkebunan sawit milik yang juga berada di daerah tangkapan air Sungai Bengkulu. Ketika hutan dan Daerah Aliran sungai sudah kehilangan fungsi ekologis maka bencana yang terjadi di daerah ini bukan karena faktor alam, tetapi akibat campur tangan manusia berupa izin-izin industri ekstraktif di kawasan hulu sungai. Keadaan ini diperparah dengan kebiasaan masyarakat yang tidak mau mengelola sampah dan membuah sampah sembarangan di aliran air.

Provinsi Bengkulu memiliki luas sekitar 1.987.870 hektar, tapi aktifitas pertambangan batubara cukup marak. Tercatat 68 izin pertambangan menguasai 208.467 hektar (10 persen dari total wilayah) dengan sebanyak 24 izin eksplorasi dan 36 izin eksploitasi. Meskipun sudah banyak diprotes, aktifitas pertambangan batubara terus berjalan hingga saat ini. Sebenarnya sudah banyak anak sungai di Bengkulu yang dirusak atau ditutup akibat aktifitas pertambangan batubara. Contoh terbaru adalah yang menimpa 450 kepala keluarga di Desa Kota Niur, Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu. Perusahaan xx yang menutup salah satu anak Sungai Manggis kemudian mengakibatkan ratusan hektar sawah milik masyarakat rusak atau kehilangan pasokan air. Sungai Manggis sendiri bermuara ke Sungai Air Bengkulu, sungai terbesar di Bengkulu. Saat ini rata-rata sungai besar di Bengkulu mengalami kerusakan total, baik itu dalam bentuk warna, rasa, dan bentang alamnya. Ini semua atas ketidakpatuhan perusahaan tambang dalam menjaga lingkungan.

tambang batubara di hulu sungai bengkulu membuat banjir
Tambang batubara terbuka di hulu Sungai Bengkulu. Foto: Dok. Genesis

Kondisi terparah saat ini adalah Sungai Air Ketahun dan Sungai Air Bengkulu. Pemerintah Bengkulu belum menindak tegas terhadap para perusak lingkungan khususnya penghancuran sumber air  masyarakat, seperti Sungai Air Bengkulu yang merupakan sumber utama bahan baku PDAM PT Tirta Dharma di Kota Bengkulu. Sumber air PDAM berasal dari Sungai Air Bengkulu telah tercemar, yang merupakan akibat pencucian pertambangan batubara dan juga limbah pabrik karet. Semua perusahaan tersebut beraktifitas di sepanjang Sungai Air Bengkulu, seperti gambar di bawah ini menunjukkan bahwa tambang terbuka beroperasi dengan memutus anak-anak sungai yang ada di hulu Sungai Air Bengkulu.

Bukan hanya hutan dan aliran sungai, tanah juga mengalami pencemaran akibat pertambangan batubara. Terdapat lubang besar yang tidak mungkin ditutup kembali  yang menyebabkan terjadinya kubangan air dengan kandungan asam yang sangat tinggi. Air kubangan tersebut mengandung zat kimia seperti Fe, Mn, SO4, Hg dan Pg. Fe dan Mn dalam jumlah banyak bersifat racun bagi tanaman yang mengakibatkan tanaman tidak dapat berkembang dengan baik. SO4 berpengaruh pada tingkat kesuburan tanah dan Ph tanah, akibat pencemaran tanah itu tumbuhan yang ada diatasnya akan mati.

Efek Kesehatan dan Lingkungan yang makin parah akibat aktifitas tambang mendorong banyak aktivis lingkungan untuk melakukan protes dan menawarkan solusi menyelesaikan permasalahan kurangnya sumber energi listrik dengan jalan yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Misalnya dengan menggunakan energi terbarukan, bukan malah menyerahkan sumber energi listrik pada tambang batu bara yang dianggap mengotori lingkungan dan membayakan kesehatan.

Saya berharap pemerintah lebih bijak memilih kemajuan yang bermanfaat dengan minim resiko. Harapan kita pemerintah mengkaji ulang izin perusahaan tambang yang nakal serta tegas kepada perusahaan untuk mewajibkan mereklamasi bekas tambang dan menjamin serta memastikan hasil reklamasi sesuai AMDAL. Pemerintah pun harus mengawasi jalannya proses pertambangan hingga proses reklamasi. Jangan sampai mengorbankan lingkungan, kesehatan bahkan nyawa masyarakat.

Referensi :

https://www.beritasatu.com/nasional/551225/tambang-batu-bara-disinyalir-sebagai-penyebab-banjir-bengkulu
https://www.mongabay.co.id/2014/12/09/opini-daerah-aliran-sungai-di-bengkulu-rusak-akibat-pertambangan-terbuka/
https://regional.kompas.com/read/2019/04/23/14512451/peringati-hari-bumi-koalisi-langit-biru-bentangkan-spanduk-di-lokasi-pltu.
Agus, F. 2004. Pengelolaan DTA Danau dan Dampak Hidrologisnya. Balai Penelitian Tanah. Bogor.  http://www.litbang.deptan.go.id/artikel/one/56/pdf [16 Juni 2006

Bagikan postingan ini :)